Pasaman, (17/3/2026)—Anggota DPR/MPR RI dari Fraksi Golongan Karya (Golkar), Daerah Pemilihan (dapil) Sumatera Barat 2, Benny Utama menyelenggarakan sosialisasi 4 pilar kebangsaan di Gedung UDKP, Kecamatan Bonjol, Kabupaten Pasaman, Selasa (17/3). Dalam kegiatan yang dihadiri ratusan anggota masyarakat tersebut, Benny menekankan pentingnya modal sosial untuk pemberdayaan masyarakat dan pembangunan yang inklusif serta berkelanjutan.
Benny mengatakan bahwa pembangunan inklusif berkelanjutan merupakan konsep pembangunan yang bertujuan untuk memastikan bahwa setiap individu dalam masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dan memperoleh manfaat dari pertumbuhan ekonomi, sosial, dan lingkungan. Hal ini sesuai dengan mandat konstitusi untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
“Dalam upaya mencapai tujuan ini, modal sosial menjadi faktor penting yang berkontribusi terhadap pemberdayaan masyarakat,” ujarnya. Modal sosial merujuk pada jaringan, norma, dan kepercayaan yang ada dalam masyarakat yang memungkinkan koordinasi dan kerja sama untuk mencapai tujuan bersama.
Dalam konteks pemberdayaan masyarakat, terang Benny, modal sosial berperan dalam membangun solidaritas, meningkatkan partisipasi, serta memperkuat akses terhadap sumber daya dan peluang ekonomi. Menurutnya, kepercayaan dan hubungan sosial yang kuat dapat membantu kelompok masyarakat, terutama yang rentan dan terpinggirkan, untuk mengembangkan potensi mereka dan mencapai kemandirian.
“Dengan adanya jaringan sosial yang baik, masyarakat dapat berbagi informasi, meningkatkan kapasitas mereka, serta bekerja sama dalam mengatasi berbagai tantangan sosial dan ekonomi,” ujarnya.
Lebih jauh Benny menjelaskan bahwa modal sosial juga memiliki peran penting dalam meningkatkan efektivitas kebijakan pembangunan. Ketika masyarakat memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap institusi pemerintah dan organisasi sosial, mereka lebih cenderung berpartisipasi dalam program-program pembangunan. Sebaliknya, lanjut Benny, kurangnya modal sosial dapat menghambat implementasi kebijakan dan menciptakan ketimpangan dalam distribusi manfaat pembangunan.
Namun problemnya kata Benny, akses terhadap modal sosial sering kali tidak merata, sehingga menimbulkan tantangan dalam mewujudkan pembangunan inklusif yang berkelanjutan. Dia menerangkan faktor-faktor seperti ketimpangan gender, urbanisasi, dan perubahan sosial-ekonomi dapat mempengaruhi bagaimana modal sosial didistribusikan dan dimanfaatkan oleh berbagai kelompok masyarakat.
“Oleh karena itu, diperlukan strategi yang tepat untuk memperkuat modal sosial agar dapat berkontribusi secara optimal dalam pembangunan yang berkeadilan dan berkelanjutan,” ujarnya.
Untuk memperkuat dan membangun modal sosial dalam pengembangan masyarakat, Benny menegaskan terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan seperti membangun jaringan sosial yang inklusif dan partisipatif untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat terlibat dalam proses pembangunan, meningkatkan kapasitas masyarakat, mendorong pengembangan institusi lokal yang inklusif dan partisipatif, meningkatkan aksesibilitas dan kualitas layanan publik, memfasilitasi diskusi antar kelompok serta mendukung kesetaraan dan keadilan sosial. (geb)












